Minggu, 25 Agustus 2013

Peran Perawat Dalam Pemberian Obat



Peran Perawat Dalam Pemberian Obat
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari cara kerja obat dalamtubuh. Obat adalah setiap substansi yang dapat mempengaruhi fungsinormal tubuh pada tingkat sel.Penggunaan onat untuk maksud sosial, keagamaan atau pengobatanagaknya ada sejak pra-peradaban. Diduga nenek moyang kita sudah memanfaatkan tumbuhan dan substansi lain sebagai “obat”.
 Mungkin50.000 tahun yang lalu. Di antara resep yang terekam, terdapat peninggalandari orang Samaria. Mereka ini mengembara dilembah sungai Trigis danEuphrate 5000 tahun yang lalu. Di antara resep-resep itu yang masih ada,terlihat adanya penggunaan garam samapi akar-akaran, biji-bijian, kulit pohon dan lain-lain.
Perlu diingat bahwa tujuan pemberian obat adalah untuk membantu proses penyembuhanalami tubuh. Obat yang kini beredar berasal dari berbagai sumber, sepertitumbuh-tumbuhan, hewan, mineral, bakteri dan substansi sintesis.Kebanyakan obat modern adalah sintetis, artinya dirakit di laboratorium.Sebagian besar obat modern sekarang ini ditemukan dalam kurun waktu 50tahun tyerakhir ini.Sebelum sebuah obat dapat dipasarkan, obat itu harus lulus ujicoba dulu, mula-mula uji laboratorium pada hewan, kemudian uji coba klinis (pada sukarelawan).
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman . Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien . Sekali obat telah diberikan , perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat Indonesia ( DOI ) ,  Physicians‘ Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia , seperti ahli farmasi , harus dimanfaatkan perawat  jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan , kontraindikasi , dosis , efek samping yang mungkin terjadi , atau reaksi yang merugikan dari pengobatan  ( Kee and Hayes, 1996 ).
 Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parenteral), namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong klien untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan. Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggungjawab dalam pengambilan keputusa tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain. Perawat dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat, hitungan yang tepat pada dosis yang diberikan



I.2    Rumusan masalah 
1)         Pengantar Farmakologi dan Interaksi Obat ?
2)         Apa Yang di Maksud Farmakologi?
3)         Bagaimana Cara Pemberian Obat ?
1.3 TujuanPenulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Makalah ini bertujuan untuk memberi informasi tentang Pengantar Farmakologi dan Interaksi Obat.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Pengertian Obat
2. Penggunaan Obat Dirumah Sakit
1.4 MetodePenulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, kamimenggunakan metode observasi dan kepustakaan. Adapun teknik-teknik yang dipergunakan penelitian ini adalah sebagai berikut :
.4.1 Studi Pustaka
Pada metode ini, kami membaca buku referensi yang berhubungandengan penulisan makalah ini.
1.4.2 Internet
Dalam metode ini, kami mencari informasi dari internet dan situs-situs yang relavan dan realistis


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengantar Farmakologi dan Interaksi Obat
2.1.1 Pengertian
Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari cara kerja obat dalamtubuh. Obat adalah setiap substansi yang dapat mempengaruhi fungsinormal tubuh pada tingkat sel.Farmakologi adalah mempelajari interaksi obat dengan organismehidup melalui proses kimia, khususnya ikatan dengan molekul pengatur danaktivitas atau penghambatan proses normal tubuh (Katzung G Bertram,2007).Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari obat dan aksi obatdalam organisme hidup (Roach S Sally, 2007).Farmakologi merupakan
“ilmu khasiat obat”merupaka
n ilmu yangmempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspek baik sifat fisikakimia,kegiatan fisiologi, resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup.
2.1.2 Penggunaan Obat di Rumah Sakit
1. Peran Dokter Dokter bertanggaung jawab atas diagnosis dan terapi. Obat harusdipesan dengan menulis resep atau tidak terbaca, baik oleh perawat maupunapoteker, penulis resep iti harus dihubungi untuk penjelasan.
2. Peran Apoteker Apoteker resmi bertanggung jawab atas pasokan dan distribusiobat. Selain itu apoteker bertanggung jawab atas pembuatan sejumlah besar  produk farmasi seperti larutan antiseptik, dan lain-lain.Peran penting lainnya ialah sebgai narsumber informasi obat.Apoteker bekerja sebagai konsultan spesialis untuk profesi kedokteran, danmemberi nasihat kepada staf keperawatan dan profesi kesehatan lainmengenai semua aspek penggunaan obat, dan memberi konsultasi kepada pasian tentang oabtnya (bila diminta).
3. Peran Perawat
Karena obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat menjadi salah satu tugas perawat yang paling penting.Perawat adalah mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung jawab bahwa obat itu diberikan danmemastikan bahwa obat itu benar diminum.Bila ada bobat yang diberikan kepada pasien, hal ini harusmenjadi bagian inegral dari rencana keperawatan. Perawat yang paling tahutentang kebutuhan dan respons pasien terhadap pengobatan. Misalnya, pasien yang sukar menelan, muntah atau tidak dapat minum obat tertentu(bentuk kapsul), pasien ini harus diperhatikan. Faktor gangguan visual, pendengaran, intelektual, atau motorik, yang mungkin membuat pasiensukar makan obat, harus dipertimbangkan.Rencana perawatan harus mencakup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan interaksiobat, efek samping, lama kerja, dan program dokter. Harus diperhatikan, prinsip lima benar:
1. Pasien yang benar 
2.Obat yang benar 
3.Dosis yang benar 
4.Cara/rute pemberuian yang benar 
5.Waktu yang benar 
2.2     Enam Hal yang Benar dalam Pemberian Obat
Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman , seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar : klien yang benar, obat yang benar, dosis yang bena, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar.
Pada waktu lampau, hanya ada lima hal yang  benar dalam pemberian obat. Tetapi kini ada hal keenam yang dimasukkan yaitu dokumentasi. Dua hal tambahan klien juga dapat ditambahkan : hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat, hak klien untuk menolak penggunaan sebuah obat.
Klien yang benar dapat  dipastikan dengan memeriksa  identitas klien, dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak berespon, maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan.
Dalam keadaan dimana klien tidak memakai gelang identifikasi (sekolah, kesehatan kerja, atau klinik berobat jalan), perawat juga bertanggung jawab untuk secara tepat mengidentifikasi setiap orang pada saat memberikan pengobatan.
 Obat yang benar berarti klien menerima obat yang telah diresepkan. Perintah pengobatan mungkin diresepkan oleh seorang dokter, dokter gigi,   atau pemberi asuhan kesehatan yang memiliki izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang menelepon dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan adalah : (1) tanggal dan saat perintah ditulis, (2) nama obat, (3) dosis obat, (4) rute pemberian, (5) frekuensi pemberian, dan (6) tanda tangan  dokter atau pemberi asuhan kesehatan. Meskipun merupakan tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat, tetapi jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan tidak lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera menghubungi dokter tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and Hayes, 1996 ).
Untuk menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali : (1) pada saat melihat botol atau kemasan obat, (2) sebelum menuang / mengisap obat dan (3) setelah menuang / mengisap obat.  Perawat harus ingat bahwa obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya hampir sama dan ejaannya mirip, misalnya digoksin dan digitoksin, quinidin dan quinine, Demerol dan dikumarol, dst.
Dosis yang benar adalah dosis yang diberikan untuk klien tertentu. Dalam kebanyakan kasus, dosis diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus menghitung setiap dosis obat secara akurat, dengan mempertimbangkan variable berikut : (1) tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan (diminta), (2) dalam keadaan tertentu, berat badan klien juga harus dipertimbangkan, misalnya 3 mg/KgBB/hari.
Sebelum menghitung dosis obat, perawat harus mempunyai dasar pengetahuan mengenai rasio dan proporsi. Jika ragu-ragu, dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam  sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d ( tiga kali sehari ), q.i.d ( empat kali sehari ), atau q6h ( setiap 6 jam ), sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan. Jika obat mempunyai waktu paruh (t ½ ) yang panjang, maka obat diberikan sekali sehari. Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu yang tertentu . Beberapa obat diberikan sebelum makan dan yang lainnya diberikan pada saat makan atau bersama makanan ( Kee and Hayes, 1996 ; Trounce, 1997) 



Rute yang benar perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai. Rute yang lebih sering dari absorpsi adalah (1) oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul . ; (2) sublingual ( di bawah lidah  untuk absorpsi vena ) ; (3) topikal ( dipakai pada kulit ) ; (4) inhalasi ( semprot aerosol ) ; (5)instilasi ( pada mata , hidung , telinga , rektum atau vagina ) ; dan empat rute parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena.
2.3 IMPLIKASI KEPERAWATAN DALAM FARMAKOLOGI
Implikasi keperawatan dalam farmakologi mencakup hal-hal yang berkaitan dengan proses keperawatan antara lain pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Beberapa hal yang perlu dikaji dalam pengelolaan farmakologi :
a.    Keadaan pasien/identifikasi pasien
*Usia  : Bayi, Anak-anak , Dewasa Dan Lansia
*Reaksi : Bagaimana Reaksi pasein setelah minum obat.
*   Pola kebiasaan  : Kebiasaan pasien pada waktu minum obat, misalnya dengan memakai air minum, pisang dan lain-lain.
*   Persepsi pasien tentang obat : khasiat obat, sugesti terhadap obat.
b.    Keadaan obat / identifikasi obat
          =>Dosis obat sesuai umur pasien
Bentuk obat apakah padat , cair suspensi
=>Pengunaan obat : oral, sub-lingual, ditelan atau dikunyah.
c.    Efek samping obat (side effect)
d.   Etiket
*Obat luar atau obat dalam (obat dalam diberi etiket putih, obat luar diberi ektiket biru).
*Tanggal/bulan/tahun kadaluarsa obat.
          Jenis obat (sedative, antihistamine, antibiotic, deuresis dll.
e.     Keadaan pasien
Hal yang perlu dikaji adalah apakah pasien sedang menjalani terapi khusus :
 Penderita TBC Aktif
2) Penderita Kusta Aktif
Penderita Epilepsi
4) Penderita Malnutrisi
f.     Ada tidaknya riwayat alergi obat
Bila mana ada pasien yang tidak tahan akan jenis obat tertentu maka harus ditulis dengan jelas pada status pasien dengan tinta merah, agar dokter dapat memilih obat lain yang lebih aman.
2.4 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PELAKSANAAN KOLABORASI PEMBERIAN OBAT
 2.4.1   Perawat yang membagi obat harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan tenang.
2.4.2    Setelah mengecek perintah pengobatan, bacalah tabel tiga kali ketika mempersiapkan obat :
Saat mengambil obat
Saat membuka/menuang atau mencampur
Saat mengembalikan.
.    Obat yang sudah lama, lebih-lebih yang sudah hilang etiketnya atau tidak jelas jangan dipakai.
4.   Cara pemberian obat harus memperhatikan prinsip 12 benar
5.    Perhatikan pasien waktu minum obat, jangan meninggalkan obat diatas meja.
6.     Jangan sekali-kali memberikan obat-obatan yang telah disiapkan orang lain, kecuali jelas ditugaskan kepada kita.
7.    Perhatikan reaksi pasien setelah minum obat.
8.    Mencatat atau membubuhkan paraf pada waktu atau pada status pasien setelah memberikan obat.
9.      Obat-obatan harus disimpan sesuai dengan syarat-syarat penyimpanan masing-masing obat, misalnya : Lemari es, tempat yang sejuk, gelap dan lain-lain.
10   Obat-obat yang dibeli sendiri oleh pasien harus disimpan dalam lemari obat pada tempat khusus, dengan etiket nama yang jelas.
11.    Menuangkan obat-obatan cair, jangan pada sisi yang ada etiketnya dan sejajar dengan mata.
12.      Setiap kali selesai mengambil obat, tempat obat ditutup kembali.
14 Bila terjadi kesalahan dalam memberikan obat harus segera dilaporkan kepada yang bertanggung jawab.
15. Usahakan agar tangan selalu bersih, ketika akan memberikan obat-obatan.
2.4.3  Peran dan Tanggung jawab perawat sehubungan dengan pemberian obat:
a.       Perawat harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai obat.
b.      Mendukung keefektivitasan obat.
c.       Mengobservasi efek samping dan alergi obat
d.      Menyimpan, menyiapkan dan administrasi obat
e.       Melakukan pendidikan kesehatan tentang obat
f.       Perawatan, pemeliharaan dan pemberian banyak obat-obatan merupakan tanggung jawab besar bagi perawat.



Dokumentasi yang benar membutuhkan tindakan segera dari seorang perawat untuk mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan  . Ini meliputi nama obat , dosis , rute , waktu  dan tanggal , inisial dan tanda tangan perawat . Respon klien terhadap pengobatan  perlu   di catat untuk beberapa macam obat seperti (1) narkotik – bagaimana efektifitasnya dalam menghilangkan rasa nyeri  – atau (2) analgesik non-narkotik, (3) sedativa, (4) antiemetik (5) reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan, seperti irigasi gastrointestinal atau tanda – tanda kepekaan kulit. Penundaan dalam mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan  atau perawat lain  memberikan obat itu kembali karena ia berpikir obat itu belum diberikan  (Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ). 
2.5      Hak – Hak    Klien dalam Pemberian Obat
2.5.1      Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat
Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi ( Informed concent ) , yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan .








2.5.2      Hak Klien untuk Menolak Pengobatan
Klien dapat menolak untuk pemberian suatu pengobatan . Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan , jika memungkinkan , alasan penolakan dan mengambil langkah – langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan . Jika suatu pengobatan dtolak , penolakan ini harus segera didokumentasikan. Perawat yang bertanggung jawab, perawat primer, atau dokter harus diberitahu jika  pembatalan pemberian obat ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian insulin. Tindak lanjut  juga diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan laboratorium , misalnya pada pemberian insulin atau warfarin (  Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.
Kesalahan dapat terjadi pada instruksi, pembagian, penamaan dan pengintrepretasian instruksi sesuai dengan penatalaksanaan obat. Obat harus tidak diberikan perawat tanpa membawa resep tertulis kecuali pada saat kegawatan. Tanggung jawab ini hanya bisa dilimpahkan dengan persetujuan dari petugas yang memiliki wewenang.


Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.
 
BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari cara kerja obat dalamtubuh. Obat adalah setiap substansi yang dapat mempengaruhi fungsinormal tubuh pada tingkat sel.Farmakologi adalah mempelajari interaksi obat dengan organismehidup melalui proses kimia, khususnya ikatan dengan molekul pengatur danaktivitas atau penghambatan proses normal tubuh (Katzung G Bertram,2007).Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari obat dan aksi obatdalam organisme hidup (Roach S Sally, 2007).Farmakologi merupakan
“ilmu khasiat obat”merupakan ilmu yang
mempelajari pengetahuan obat dalam seluruh aspek baik sifat fisikakimia,kegiatan fisiologi, resorpsi dan nasibnya dalam organisme hidup.Pemberian obat menjadi salah satu tugas kolaboratif perawat yang paling penting, karena :
a.   Perawat merupakan mata rantai terkhir dalam proses pemberian obat pada pasien. 
b.   Perawat bertanggung jawab bahwa obat sudah diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar di minum oleh pasien.


c.   Perawat yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon pasien terhadap pengobatan. Misalnya : pasien sukar menelan, muntah atau tidak dapatminum obat tertentu.
d.  Perawat hampir 24 jam waktunya disediakan untuk memenuhi kebutuhan pasien.
3.2 Saran
Dalam hal ini perawat sangat penting sekali melakukan perankolaborasi perawat dalam pelaksanaan farmakologi. Dan setelah itu perawat juga harus menguasai cara pemberian obat dengan prinsip 12 benar.












DAFTAR PUSTAKA